510 Mahasiswa STIS

510 Mahasiswa STIS Diterjunkan untuk Percepat Pendataan Pascabencana di Sumatera

510 Mahasiswa STIS Diterjunkan untuk Percepat Pendataan Pascabencana di Sumatera
510 Mahasiswa STIS Diterjunkan untuk Percepat Pendataan Pascabencana di Sumatera

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melepas keberangkatan 510 mahasiswa Politeknik Statistika (STIS) untuk melakukan pendataan di wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pelepasan perdana ini digelar pada Kamis, 15 Januari 2026, di Terminal Keberangkatan Gedung Sadewa, Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menekankan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal dalam mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. "Kami juga menggunakan digital survey, aplikasi digital untuk mengumpulkan data, digital questionnaire," jelas Amel.

Mahasiswa yang diberangkatkan menggunakan pesawat Hercules dan pesawat komersial, dengan pemberangkatan pesawat Hercules dilakukan dalam dua tahap. “Kemarin 120 personil dan hari ini 120 personil atau mahasiswa yang kami berangkatkan dengan Hercules. Dan ini tentunya secara total 240 mahasiswa yang diberangkatkan dengan pesawat Hercules. Sisanya karena keterbatasan kapasitas pesawat Hercules kami berangkatkan dengan pesawat komersial,” kata Amalia.

Strategi Penempatan Mahasiswa di Wilayah Terdampak

Pendataan yang dilakukan mahasiswa STIS ini merupakan tindak lanjut dari Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2026. Keputusan tersebut membentuk Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Wakil Kepala BPS, Sonny Harry Budiutomo Harmadi, menyebutkan penempatan mahasiswa akan dibagi ke sejumlah wilayah terdampak. Aceh menjadi daerah dengan jumlah penempatan terbanyak karena kerusakan yang paling signifikan di 15 kabupaten dan kota prioritas.

“Di Aceh misalkan, di Aceh Tamiang, di Bandar Meriah, di Gayo Lues, di fokus di Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan yang paling terpengaruh,” jelas Sonny. Mahasiswa juga ditempatkan di Provinsi Sumatera Barat, termasuk wilayah Agam, Padang Pariaman, dan Tanah Datar.

Kegiatan ini bersinergi dengan program Praktik Kerja Lapangan (PKL) STIS. Selain menjadi pengalaman akademik, program ini menegaskan kontribusi nyata mahasiswa kedinasan terhadap pemulihan pascabencana nasional.

Teknologi Digital Mendukung Percepatan Data

Amalia menjelaskan pemanfaatan digital survey dan aplikasi digital menjadi kunci efisiensi pengumpulan data. Hal ini memungkinkan informasi dari lapangan diterima lebih cepat dan akurat untuk mendukung perencanaan rehabilitasi.

Penggunaan digital questionnaire membantu mahasiswa mengumpulkan data secara sistematis dan langsung diunggah ke pusat. Dengan demikian, proses analisis data dapat segera dilakukan oleh BPS dan pemangku kebijakan terkait.

Selain itu, penerapan teknologi ini menekan kemungkinan kesalahan pencatatan manual. Hal ini sangat penting untuk memastikan data yang dihasilkan dapat menjadi dasar kebijakan pemulihan wilayah terdampak bencana.

Kontribusi STIS bagi Pemulihan Nasional

Melalui pelepasan mahasiswa ini, BPS menegaskan komitmen dalam penyediaan data yang akurat dan terpercaya. Data ini menjadi fondasi utama bagi percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Sumatera.

Kegiatan ini juga mencerminkan peran aktif mahasiswa STIS sebagai tenaga terampil yang mendukung program pemerintah. Selain mendukung pemulihan bencana, kegiatan ini sekaligus melatih mahasiswa dalam pengelolaan data lapangan secara profesional.

BPS berharap data yang dihimpun dapat membantu pemerintah daerah dan pusat dalam menentukan prioritas rehabilitasi. Informasi yang akurat menjadi kunci agar sumber daya dan bantuan dapat tersalurkan tepat sasaran.

Keberangkatan perdana ini juga menandai penguatan kolaborasi antara pendidikan tinggi kedinasan dan pemerintah. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga berkontribusi langsung pada agenda nasional.

Program ini menjadi model sinergi antara institusi pendidikan, pemerintah, dan teknologi digital. Kecepatan dan akurasi pengumpulan data menjadi faktor penting agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan efektif.

Selain itu, keterlibatan mahasiswa menunjukkan pentingnya peran generasi muda dalam penanganan bencana. Mereka menjadi penghubung antara teori akademik dan praktik nyata di lapangan.

Dengan total 510 mahasiswa yang diterjunkan, BPS menargetkan seluruh wilayah terdampak mendapatkan data lengkap dan akurat. Hal ini diharapkan mempercepat proses pengambilan keputusan dan perencanaan program pemulihan pascabencana.

Kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa STIS untuk mengaplikasikan ilmu statistika dan metodologi survei dalam kondisi nyata. Pengalaman ini akan memperkuat kompetensi mereka sebagai tenaga profesional di bidang statistik dan data.

Keberangkatan mahasiswa menunjukkan kesiapan Indonesia dalam menghadapi dampak bencana dengan pendekatan berbasis data. Strategi ini diharapkan mempercepat rehabilitasi serta meminimalkan risiko kesalahan dalam pengambilan kebijakan.

BPS memastikan seluruh mahasiswa mendapatkan fasilitas dan pendampingan selama melakukan pendataan. Hal ini penting untuk menjaga kualitas pengumpulan data sekaligus keamanan mahasiswa di lapangan.

Selain itu, pemanfaatan pesawat Hercules untuk sebagian mahasiswa menegaskan kesiapan logistik pemerintah. Langkah ini juga mempercepat distribusi mahasiswa ke wilayah terdampak yang sulit dijangkau transportasi komersial.

Melalui langkah-langkah ini, BPS menegaskan bahwa data adalah pondasi utama pembangunan pascabencana. Ketepatan dan akurasi informasi menjadi penentu keberhasilan program rehabilitasi dan rekonstruksi di Sumatera.

Pelaksanaan program ini juga diharapkan dapat menjadi acuan bagi penanganan bencana di masa mendatang. Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah, dan teknologi digital menjadi model efektif dalam percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana.

Dengan demikian, peran STIS tidak hanya terbatas pada pendidikan tinggi, tetapi juga kontribusi nyata terhadap bangsa. Mahasiswa menjadi bagian penting dari strategi nasional dalam penanggulangan bencana dan pemulihan sosial-ekonomi masyarakat terdampak.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index